Sejak kemarin (6/1/2025), jagat maya dihebohkan dengan berita pemberhentian kerja sama antara PSSI dan pelatih timnas Indonesia, Shin Tae Young. Keputusan ini mengejutkan banyak kalangan, dari penggemar sepak bola hingga masyarakat umum. Shin Tae-yong, pelatih timnas Indonesia, telah membawa sejumlah prestasi signifikan sejak ditunjuk pada 2019. Di bawah asuhannya, timnas Indonesia berhasil mencapai final Piala AFF 2020, yang merupakan pencapaian terbaik dalam 6 tahun terakhir. Selain itu, ia juga berhasil membawa timnas Indonesia tampil kompetitif di kualifikasi Piala Dunia 2022 dan mencatatkan sejumlah kemenangan penting di level Asia. Shin juga dikenal telah membangun skuad yang lebih solid dengan fokus pada taktik dan pengembangan pemain muda, yang membuat timnas Indonesia semakin berkembang. Pemberhentian kerja sama ini tentu saja membuat banyak penggemar sepak bola maupun masyarakat Indonesia pada umumnya yang merasa kehilangan karena pencapaian Shin Tae Yong untuk timnas Indonesia. Sepak bola telah menjadi bagian yang sangat melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Indonesia, dikenal sebagai bangsa yang memiliki fanatisme tinggi terhadap sepak bola, baik dalam sisi positif maupun negatif.
| Tribute untuk Shin Tae Young dari penggemar sepak bola Indonesia |
Secara positif, sepak bola mampu menyatukan masyarakat dan menjadi kebanggaan bangsa baik di kancah internasional maupun lokal. Namun, di sisi lain, fanatisme yang berlebihan dapat menimbulkan dampak buruk. Tragedi Kanjuruhan, yang menewaskan 150 orang dan melukai lebih dari 500 orang, menjadi contoh nyata bagaimana kecintaan terhadap sepak bola bisa berujung pada kekerasan dan kehilangan nyawa. Di tengah dinamika ini, pertanyaannya adalah, bagaimana orang Kristen seharusnya memaknai olahraga dalam konteks iman mereka?
Terdapat dua pandangan ekstrem yang sering muncul terkait olahraga. Di satu sisi, ada orang-orang yang menjadikan olahraga sebagai prioritas utama, bahkan mengorbankan aspek-aspek lain dalam hidup mereka. Terkadang, fanatisme terhadap olahraga membuat seseorang lebih memilih menonton pertandingan daripada mengikuti ibadah, terutama jika keduanya bertepatan. Dalam hal ini, olahraga seolah-olah telah menjadi "agama" bagi sebagian orang. Sebaliknya, ada pula pandangan yang sangat menentang olahraga, menganggapnya sebagai hiburan duniawi yang harus dihindari agar iman tetap terjaga. Beberapa alasan yang mendasari pandangan ini antara lain adalah keterlibatan olahraga dalam perjudian dan penggunaan olahraga sebagai alat propaganda untuk kampanye tertentu seperti LGBT.
Lantas, bagaimana seharusnya orang Kristen menyikapi olahraga? Apa yang seharusnya dilakukan ketika olahraga berkonflik dengan iman Kristen, baik sebagai atlet maupun sebagai penggemar?
Secara pribadi, saya bukanlah penggemar berat olahraga. Memang, olahraga sering kali memunculkan emosi yang tak terkendali, seperti iri hati, dengki, perseteruan, bahkan kecurangan. Namun, saya juga menyadari bahwa olahraga memiliki sisi positif. Beberapa atlet, seperti Ricardo Kaka, Evander Holyfield, LeBron James, serta atlet lokal seperti Jonathan Cristie dan Chris John, seringkali menggunakan platform olahraga untuk menyatakan iman Kristen mereka. Mereka tidak hanya menunjukkan sportifitas, tetapi juga bersaksi tentang iman mereka dalam berbagai kesempatan, termasuk wawancara. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi sarana untuk menyebarkan Injil dan menguatkan iman orang Kristen di seluruh dunia. Seperti yang dikatakan oleh John Fesko, "The sports arena, whether we play or observe, is a microcosm of life. It reveals the true nature of our character." Menurutnya, karakter kita bisa terlihat dari bagaimana kita berperilaku di luar maupun di dalam arena olahraga.
| Ricardo Kaka berpose usai mencetak gol |
Bicara tentang hubungan antara olahraga dan karakter Kristen, olahraga memiliki kaitan yang erat dengan pengudusan. Paulus menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pengudusan orang percaya. Dalam 1 Korintus 9:24-27, Paulus berkata, "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Melalui ayat ini, Paulus menekankan pentingnya disiplin dalam kehidupan Kristen. Seperti halnya dalam olahraga, kehidupan Kristen juga membutuhkan latihan, pengendalian diri, dan pengorbanan yang terkadang sulit, namun tetap memberikan kepuasan sejati.
Namun, mengingat dampak positif yang dapat diberikan olahraga, apa saja batasan yang perlu dipegang oleh orang Kristen dalam menyikapi olahraga? Pada beberapa abad pertama gereja, sebagian besar orang Kristen menentang olahraga, terutama karena olahraga pada masa itu sering kali dikaitkan dengan penyembahan berhala. Olimpiade awal, misalnya, didedikasikan untuk dewa-dewa seperti Zeus dan Nike, dan para atlet bertanding dalam keadaan telanjang. Selain itu, pertandingan gladiator yang terkenal melibatkan pertarungan antara orang Kristen dengan binatang buas. Belajar dari sejarah gereja, kita dapat menarik pelajaran bahwa orang Kristen harus menghindari olahraga yang didedikasikan untuk penyembahan berhala, baik itu berhala kuno seperti dewa-dewi Yunani maupun berhala modern seperti popularitas duniawi dan cinta uang. Selain itu, olahraga yang melibatkan kekerasan berlebihan, seperti pertarungan yang tidak memperhatikan keselamatan, juga perlu dihindari.
| Arena Colosseum sebagai tempat pertandingan olahraga Kekaisaran Romawi menjadi tempat penganiayaan orang Kristen |
Namun, kita juga harus menyadari bahwa kejatuhan manusia dalam dosa telah mempengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk olahraga. Kekerasan, kecurangan, dan kedengkian dalam olahraga adalah dampak dari dosa yang mempengaruhi dunia ini. Bahkan dalam dunia olahraga, kita bisa menemukan penyembahan berhala, meski tidak disadari oleh banyak orang Kristen. Dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, olahraga sering kali bukan lagi menjadi pemberian dari Allah, tetapi malah mengambil tempat Allah, bahkan dengan cara yang ironis, bersaing dengan Allah itu sendiri. Penyembahan berhala dalam olahraga bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memilih menonton pertandingan sepak bola daripada mengikuti ibadah, hingga mengorbankan iman demi mengejar ketenaran sebagai atlet dan mendukung kampanye tertentu yang bertentangan dengan ajaran Kristen.
| Kampanye LGBT dalam liga primer Inggris |
Akhirnya, seperti yang dikatakan oleh Jeremy R. Treat, "Olahraga lebih dari sekadar permainan, tetapi jauh lebih rendah dari pada Allah." Sebagai orang Kristen, kita harus selalu mengingat bahwa meskipun olahraga dapat membawa dampak positif, tidak boleh ada sesuatu yang menggantikan posisi Allah dalam hidup kita. Olahraga seharusnya menjadi alat untuk memuliakan Tuhan, bukan sebagai dewa yang kita sembah.
Oleh,
Marcelino Runtunuwu.
Referensi;
Paul Jansen, "Sport and Religion", Reformed Journal, https://reformedjournal.com/sport-and-religion/.
John Fesko, "Sport and Sanctification", Reformed Theology in Piety, Practice and Preaching, https://www.jvfesko.com/blog/2024/12/30/sports-and-sanctification/
Jeremy Treat, "More than Game: The Theology of Sport", The Gospel Coalition, https://www.thegospelcoalition.org/themelios/article/more-than-a-game-theology-of-sport/.
0 Komentar