Selama sepuluh tahun terakhir, saya telah mempelajari teologi Reformed dan berusaha membelanya di tengah pengaruh gerakan Karismatik-Pentakosta yang melanda gereja lokal saya yang berlatar belakang Calvinis. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperkenalkan teologi Reformed kepada anak muda, seperti komunitas pemuridan, katekisasi dogma yang rutin dilaksanakan, serta ibadah yang mengutamakan khotbah doktrinal. Namun, meskipun berbagai usaha telah dilakukan, tetap saja banyak anak muda yang tertarik dan mengikuti persekutuan atau ibadah di gereja Karismatik, bahkan beberapa di antaranya berpindah keanggotaan gereja.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi peralihan ini. Gaya beribadah yang lebih kontemporer dan cocok dengan anak muda menjadi salah satu alasan utama. Selain itu, keramahan antarjemaat dan faktor teologis seperti ajaran kontinualisme yang meyakini bahwa karunia supranatural (bahasa roh, nubuat, dan mujizat kesembuhan) masih berlaku dalam gereja, menjadi daya tarik tersendiri. Ada juga pandangan bahwa baptisan yang sah adalah baptisan selam serta perasaan bahwa gereja Karismatik lebih diberkati oleh Roh Kudus dibandingkan gereja sebelumnya.
Saya
tidak bermaksud menyatakan bahwa gerakan Karismatik sepenuhnya salah.
Sebaliknya, saya menemukan beberapa hal positif dalam gerakan ini yang dapat
menjadi pembelajaran bagi gereja arus utama, khususnya dalam pelayanan kepada
anak muda.
1. Keberanian dalam Membagikan Kekristenan
Salah
satu kekuatan utama dari gerakan Karismatik adalah keberanian dalam membagikan
hal-hal rohani. Berbeda dengan gereja arus utama yang cenderung lebih tertutup,
orang-orang Karismatik lebih berani membahas iman mereka secara terbuka. Hal
ini menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka dalam penginjilan. Bahkan di
dunia Barat, di mana modernisme dan postmodernisme menyebabkan meningkatnya
ateisme dan agnostisisme, banyak orang yang kembali kepada Kekristenan melalui
penginjilan yang dilakukan oleh gereja Karismatik.
Tentu
saja, keberanian ini sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman teologi dan
hermeneutika yang baik. Banyak ayat Alkitab yang dikutip di luar konteks atau
ditafsirkan berdasarkan pengalaman pribadi. Namun, keberanian dalam
menyampaikan pesan-pesan Kekristenan merupakan hal yang patut diapresiasi.
Tanpa keberanian, penginjilan tidak akan berhasil, dan pelayanan gereja tidak
akan berkembang.
2. Spiritualitas Pribadi dan Jemaat yang Kuat
Orang-orang
Karismatik memiliki kebiasaan persekutuan pribadi yang kuat, seperti doa dan
membaca Alkitab secara rutin. Mereka lebih sering membahas Alkitab dan kuasa
doa dibandingkan orang-orang di gereja arus utama. Dalam diskusi dengan jemaat
Karismatik, saya menemukan bahwa mereka memiliki hafalan ayat yang kuat.
Meskipun pemahaman hermeneutik mereka mungkin kurang, hafalan ini menunjukkan
kebiasaan membaca Alkitab yang konsisten.
Selain
itu, doa memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan jemaat Karismatik.
Mereka meyakini bahwa doa memiliki kuasa untuk mengubah keadaan dan bahwa iman
yang kuat adalah kunci untuk menerima jawaban doa. Dalam kebaktian, doa sering
kali dipimpin oleh pendeta atau gembala, yang dianggap memiliki kualitas rohani
yang lebih tinggi jika doa-doanya dikabulkan. Kepercayaan terhadap kuasa doa
ini menumbuhkan semangat ketergantungan kepada Tuhan dalam setiap aspek
kehidupan mereka.
3. Penggunaan Emosi dalam Ibadah
Ibadah di
gereja Karismatik lebih ekspresif dibandingkan gereja arus utama. Jemaat tidak
malu mengungkapkan emosi mereka, baik dalam bentuk air mata, angkat tangan,
maupun sorakan pujian. Bagi mereka, ekspresi emosi adalah tanda bahwa hadirat
Roh Kudus benar-benar dirasakan. Hal ini berbeda dengan gereja Calvinis yang
lebih menekankan kekhusyukan, keteraturan, dan kesederhanaan dalam ibadah.
Ekspresi
emosi ini membuat anak muda lebih tertarik kepada ibadah Karismatik. Mereka
merasa lebih bebas dalam mengekspresikan penyembahan mereka tanpa aturan yang
terlalu kaku. Meskipun emosi dalam ibadah bukan satu-satunya aspek penting,
kejujuran dalam mengekspresikan perasaan kepada Tuhan adalah sesuatu yang patut
diapresiasi.
4. Keteguhan dalam Memegang Otoritas Alkitab
Gerakan
Karismatik tidak malu untuk mengakui bahwa Alkitab adalah firman Allah yang
diilhami oleh Roh Kudus. Mereka menerima setiap teks dalam Alkitab sebagai
kebenaran, termasuk klaim-klaim supranaturalnya. Hal ini berbeda dengan
beberapa gereja arus utama di Barat yang telah dipengaruhi oleh modernisme dan
liberalisme, sehingga mulai meragukan otoritas Alkitab dan melihatnya hanya
sebagai panduan moral.
Kepercayaan
teguh terhadap Alkitab ini juga berdampak pada cara mereka melihat misi gereja.
Di saat gereja-gereja arus utama cenderung lebih fokus pada pelayanan sosial,
gereja Karismatik tetap menekankan pekabaran Injil dan klaim eksklusif
Kekristenan, seperti keselamatan hanya melalui Yesus Kristus. Meskipun
pelayanan sosial sangat penting dalam Kekristenan, tanpa pekabaran Injil,
gereja akan kehilangan keunikannya dan menjadi sekadar lembaga sosial.
Kesimpulan
Meskipun
saya berasal dari latar belakang Reformed dan memiliki banyak perbedaan dengan
gerakan Karismatik, saya menyadari bahwa ada banyak hal positif yang bisa
dipelajari dari mereka. Keberanian dalam penginjilan, spiritualitas yang kuat,
ekspresi emosi dalam ibadah, dan keteguhan dalam memegang otoritas Alkitab
adalah beberapa aspek yang patut diapresiasi.
Daripada
hanya mengkritik gerakan Karismatik, gereja arus utama seharusnya belajar dari
kekuatan mereka dan menerapkannya dalam konteks yang tetap setia kepada doktrin
yang benar. Dengan demikian, gereja dapat tetap relevan bagi generasi muda
tanpa kehilangan identitas teologisnya. Anak muda membutuhkan gereja yang bukan
hanya kuat dalam doktrin, tetapi juga hidup dalam semangat iman yang dinamis
dan relevan dengan kehidupan mereka.
0 Komentar