| Cornelius Van Til (1895-1987), Apologet Kristen dan Teolog Reformed |
Dalam beberapa waktu terakhir, saya menonton sebuah debat antara Kristen dan Islam yang mengangkat tema "Tritunggal atau Tauhid dalam Perspektif Logika." Namun sebenarnya, dalam empat tahun terakhir, minat saya terhadap perdebatan antar agama di Indonesia semakin menurun. Hal ini dikarenakan pola perdebatan yang lebih berfokus pada pembuktian, di mana masing-masing pihak menghadirkan argumen yang mereka yakini mendukung posisi mereka.
Misalnya, pihak Islam sering mengutip ayat-ayat tertentu dari Alkitab untuk menunjukkan bahwa Yesus hanyalah manusia. Di sisi lain, pihak Kristen menegaskan bahwa permasalahan bukan pada ayat itu sendiri, melainkan pada cara penafsiran Islam terhadapnya. Sebagai tanggapan, pihak Kristen mengajukan ayat-ayat yang membuktikan keilahian Yesus, tetapi pihak Islam beranggapan bahwa ayat-ayat tersebut telah dimanipulasi oleh gereja guna mendukung doktrin Ketuhanan Yesus.
Dinamika serupa terjadi dalam debat yang saya tonton, di mana masing-masing pihak tetap berpegang teguh pada keyakinannya, meskipun telah dipaparkan berbagai argumen. Saya tidak mengetahui apakah audiens debat terpengaruh oleh bukti yang disajikan, sehingga mempertimbangkan kembali atau justru semakin meneguhkan iman mereka. Jika Tuhan menggunakan debat ini untuk memperkuat iman Kristen atau menjadi sarana penginjilan bagi Muslim, tentu hal itu sangat baik. Namun, yang menarik adalah bagaimana masing-masing pihak tetap bertahan pada keyakinan mereka, meskipun mungkin ada beberapa hal yang menggoyahkan pandangan mereka.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa keyakinan seseorang sangat mempengaruhi cara pandangnya terhadap dunia. Sebagai contoh, bagi sebagian masyarakat Minahasa, anjing tidak hanya dianggap sebagai hewan peliharaan tetapi juga bisa dikonsumsi sebagai makanan. Sementara itu, bagi orang Barat, hal ini terdengar ekstrem karena bertentangan dengan keyakinan budaya mereka. Perbedaan lainnya dapat dilihat dalam persepsi tentang kesopanan, di mana berpakaian minim seperti mengenakan bikini dianggap wajar dalam budaya Barat, tetapi dipandang sebagai sesuatu yang tidak sopan dalam budaya Indonesia.
Dalam konteks kepercayaan, perbedaan pandangan juga dapat terlihat dalam cara orang Kristen dan ateis memahami fosil dinosaurus. Bagi orang Kristen, fosil ini adalah bukti adanya Allah Sang Pencipta, sedangkan bagi ateis, fosil tersebut mendukung pandangan bahwa kisah Alkitab hanyalah mitos. Dengan demikian, yang menjadi permasalahan bukanlah bukti itu sendiri, tetapi keyakinan yang membentuk cara seseorang dalam menafsirkan bukti tersebut. Hal ini juga berlaku dalam debat antara Islam dan Kristen mengenai Alkitab, di mana teks yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda berdasarkan keyakinan masing-masing pihak.
Cornelius Van Til memperkenalkan konsep presuposisi, yaitu keyakinan dasar yang membentuk cara pandang seseorang terhadap dunia. Presuposisi ini berfungsi sebagai landasan pemikiran yang mempengaruhi interpretasi terhadap realitas. Sebagai contoh, orang Kristen memahami dunia, dosa, keselamatan, dan kehidupan berdasarkan iman mereka, sehingga ketika melihat kejahatan, mereka mengaitkannya dengan dosa manusia. Sebaliknya, seorang ateis mungkin menafsirkan kejahatan sebagai hasil dari faktor sosial atau psikologis.
Secara teologis, presuposisi ini serupa dengan iman, karena iman merupakan bentuk keyakinan yang mendasar. Oleh karena itu, orang Kristen memiliki presuposisi Kristen yang seharusnya mempengaruhi cara pandang mereka terhadap dunia. Sayangnya, tidak semua orang Kristen dapat menerapkan presuposisi mereka secara konsisten. Misalnya, ada orang Kristen yang percaya bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, tetapi juga menerima ide bahwa ada gender lain di luar kategori tersebut. Ketidakkonsistenan ini menunjukkan bahwa bukti atau pandangan yang mereka anut tidak sejalan dengan keyakinan mereka.
Dalam debat apologetika di Indonesia, sering kali pihak Kristen terlalu fokus pada penyajian bukti dengan harapan dapat meyakinkan lawan debat mereka. Namun, pada akhirnya, pihak lawan tetap bertahan pada posisinya dan mengajukan bukti yang mereka yakini mendukung argumen mereka. Saya menghargai perjuangan para apologet Kristen yang berusaha mempertahankan iman mereka melalui metode apologetika mereka. Namun, saya berpendapat bahwa lebih bijaksana untuk berfokus pada akar permasalahan, yaitu keyakinan, daripada sekadar berdebat soal bukti yang tidak akan pernah mencapai kesepakatan.
Inilah yang dipahami dengan baik oleh Cornelius Van Til, yang kemudian mengembangkan metode Apologetika Presuposisional atau Covenantal Apologetics. Pendekatan ini berfokus pada wawasan dunia seseorang dibandingkan dengan sekadar mempertukarkan bukti. Metode ini berupaya menunjukkan bahwa bukti hanya masuk akal dalam perspektif Kristen, sementara dalam perspektif non-Kristen, bukti tersebut justru mengarah pada kontradiksi internal.
Sebagai contoh, dalam perdebatan tentang Alkitab, pihak Islam sering menggunakan ayat tertentu untuk mendukung pandangan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Namun, mereka juga berargumen bahwa Alkitab telah dipalsukan. Jika mereka percaya bahwa Alkitab telah dipalsukan, maka mengapa mereka tetap menggunakan teks tersebut untuk mendukung klaim mereka? Inilah yang menjadi keunggulan apologetika presuposisional, karena pendekatan ini menyoroti inkonsistensi dalam cara pandang lawan.
Dengan demikian, apologetika presuposisional yang dikembangkan oleh Van Til bukanlah menolak bukti, tetapi justru mengembalikan bukti pada kerangka pemikiran yang benar. Daripada menempatkan Yesus sebagai subjek yang harus diuji oleh bukti, metode ini menegaskan bahwa Yesus adalah hakim yang menentukan kebenaran dari apa yang disebut sebagai bukti. Jika kita menganggap bukti bersifat netral dan independen dari iman Kristen, maka kita secara tidak langsung menyatakan bahwa Kristus atau Alkitab tidak memiliki otoritas atas bukti tersebut.
Saya percaya bahwa pendekatan apologetika Van Til tidak mengabaikan bukti, tetapi justru menjadikan bukti itu lebih bermakna dalam perspektif yang benar. Oleh karena itu, apologetika presuposisional menjadi metode yang lebih efektif dalam mempertahankan iman Kristen dibandingkan dengan apologetika berbasis bukti semata.
0 Komentar