Keragaman dalam Teologi Konservatif

Saya baru saja menonton film Conclave, sebuah karya yang layak diapresiasi dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori Best Adapted Screenplay. Namun, dalam artikel ini, saya tidak akan membahas alur cerita atau kejutan di akhir film, melainkan akan menyoroti realitas dalam pelayanan gerejawi, khususnya terkait dengan keberagaman teologi.

Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana secara jujur dan terbuka mengangkat perbedaan corak teologi di antara para kardinal yang mempengaruhi keputusan mereka dalam memilih seorang Paus. Dalam film ini, teologi liberal diwakili oleh Kardinal Bellini dan Trembley, sedangkan teologi konservatif digambarkan melalui Kardinal Adeyemi dan Tedesco. Berbagai isu relevan seperti imigrasi, LGBT, dan terorisme juga muncul dalam film ini, menunjukkan kontras antara perspektif liberal dan konservatif dalam menyikapi masalah tersebut.

Sayangnya, film ini tampaknya mempersepsikan teologi konservatif secara tidak seimbang. Contohnya adalah bagaimana pernyataan Kardinal Adeyemi tentang LGBT yang seolah-olah mencerminkan bahwa kaum konservatif intoleran dan fanatik. Jika film ini bertujuan untuk menyudutkan konservatisme, maka tujuan tersebut telah tercapai. Namun, benarkah teologi konservatif sesederhana itu?

Konservatisme dan Isu LGBT

Jika benar kaum konservatif menentang LGBT dalam segala aspek, mengapa saya yang mengidentifikasi diri sebagai konservatif tidak menolak keberadaan mereka? Menyangkal eksistensi kaum LGBT sama saja dengan menyangkal kenyataan bahwa dosa itu ada. Seperti halnya kita mengakui bahwa pembunuhan adalah dosa tetapi tidak menyangkal keberadaan para pembunuh, demikian pula seharusnya sikap kita terhadap kaum LGBT. Menerima keberadaan mereka tidak berarti menerima perbuatan mereka sebagai sesuatu yang benar. Dosa tetaplah dosa, dan saya tidak akan berkompromi dalam hal itu. Namun, mendukung hak mereka untuk hidup dan memilih jalan hidup mereka juga merupakan bagian dari nilai-nilai Kristen. Kekristenan tidak mengajarkan pemaksaan, sebab Injil tidak bisa berjalan beriringan dengan paksaan.

Dalam hal ini, seorang konservatif sejati dapat tetap berpegang teguh pada doktrin Alkitabiah sembari menghormati hak orang lain untuk menjalani kehidupan mereka. Jika saya yang konservatif memiliki pandangan seperti ini, maka jelas bahwa teologi konservatif lebih kompleks daripada gambaran yang diberikan dalam Conclave.

Konservatisme dan Keberagaman Praktik

Memang ada sebagian kaum konservatif yang menunjukkan sikap intoleran terhadap orang lain. Hal ini tidak bisa disangkal, sebab fokus konservatisme sering kali lebih tertuju pada kesamaan doktrin daripada penerapan praktis dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, seseorang dapat disebut konservatif karena menolak aborsi dan LGBT, tetapi cara mereka menyikapi isu tersebut di tengah masyarakat bisa berbeda-beda.

Di Minahasa, misalnya, umat Kristen juga menolak LGBT tetapi tidak memiliki pandangan ekstrem seperti mendukung pemenjaraan mereka. Keberadaan kaum LGBT diterima dalam masyarakat tanpa mengorbankan keyakinan iman mereka. Hal ini berbeda dengan sebagian orang Kristen di Timur Tengah yang mungkin mendukung regulasi hukum yang lebih ketat terhadap LGBT. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam pandangan simplistis terhadap konservatisme yang sering kali dipropagandakan oleh media Barat.

Pergumulan dalam Konservatisme dan Pendidikan Teologi

Dalam konteks pelayanan gereja, saya pribadi telah bergumul dengan isu konservatisme ini. Saat menempuh pendidikan teologi, saya sering mendengar pernyataan dari dosen-dosen biblika yang menyebut suatu pandangan sebagai "konservatif" seolah-olah konservatisme bukan bagian dari arus utama lembaga pendidikan teologi atau gereja tempat saya melayani. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa terdapat perbedaan antara pengajaran di mimbar gereja dan di ruang kelas teologi? Apakah ada dikotomi antara teologi akademik dan spiritualitas gerejawi?

Saya juga sering bertanya, bagaimana mungkin seorang dosen yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah tetapi pada saat yang sama menggunakan metode kritik tinggi dalam menafsirkan Kitab Suci? Atau bagaimana seorang dosen teologi bisa mempercayai keilahian dan kemanusiaan Yesus, tetapi menerima bahwa teologi dalam Perjanjian Baru dipengaruhi oleh perkembangan teologi gereja di masa-masa selanjutnya? Jika demikian, apakah mereka bisa dikategorikan sebagai konservatif atau liberal?

Konservatisme dalam Konteks Gereja

Dari pengalaman saya, saya sampai pada kesimpulan bahwa teologi gereja harus mengacu pada pengakuan iman yang dianutnya. Variasi pandangan di antara para teolog dalam suatu institusi teologi adalah hal yang lumrah. Dalam satu kelas biblika, kita mungkin menemukan seorang dosen yang terlihat liberal, tetapi di kelas dogmatika, kita bisa berhadapan dengan dosen yang sangat konservatif. Sama seperti dalam film Conclave, perbedaan pandangan ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, terutama di institusi pendidikan teologi yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, menilai suatu gereja sebagai liberal hanya karena ada beberapa dosennya yang menggunakan metode hermeneutik tertentu adalah tindakan yang terlalu menyederhanakan masalah. Teologi gereja harus dinilai berdasarkan pengakuan iman resminya, bukan dari pendapat individu teolognya. Berdasarkan hal ini, saya menyimpulkan bahwa gereja tempat saya melayani bukanlah gereja liberal, tetapi gereja konservatif dengan beragam pendekatan dalam konservatisme itu sendiri.

Kesimpulan: Variasi dalam Konservatisme sebagai Peluang

Variasi dalam konservatisme seharusnya tidak selalu dipandang sebagai suatu masalah atau kesesatan dalam gereja. Sebaliknya, hal ini dapat menjadi kesempatan bagi gereja untuk menegaskan keyakinannya sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan memilih meninggalkan gereja ketika berhadapan dengan pandangan yang saya anggap liberal. Namun, sekarang saya melihat bahwa justru variasi dalam konservatisme inilah yang mendorong saya untuk semakin giat melayani di gereja.

Jika Anda melihat liberalisme atau variasi teologi dalam gereja Anda sebagai sebuah tantangan, maka sebaiknya Anda semakin memperkuat iman konservatif Anda sambil mengajar dan membimbing jemaat sesuai dengan keyakinan yang Anda pegang. Jangan jadikan tantangan sebagai hambatan, tetapi lihatlah sebagai peluang untuk melayani lebih sungguh-sungguh dalam gereja Tuhan.

Posting Komentar

0 Komentar