Setiap tahun, pada bulan Maret hingga April, jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dan banyak gereja Protestan lainnya memperingati Minggu-minggu Sengsara Yesus Kristus. Enam minggu sebelum Paskah, suasana khas mulai tampak dalam ibadah gerejawi, baik melalui dekorasi yang didominasi warna ungu—seperti kain mimbar, toga pendeta, dan stola, maupun melalui liturgi yang berbeda dari biasanya. Selain itu, ornamen Paskah mulai menghiasi gereja, dan ibadah diwarnai dengan refleksi mendalam mengenai penderitaan Kristus.
Dalam beberapa waktu terakhir, saya mulai merenungkan makna Minggu-minggu Sengsara secara teologis dan akademik. Awalnya, saya berpikir bahwa tradisi ini merupakan bagian integral dari gereja Protestan tanpa kontroversi. Namun, setelah mengikuti beberapa diskusi, saya menyadari bahwa ada perdebatan di kalangan teolog Protestan, terutama terkait dengan adopsi Rabu Abu oleh beberapa gereja Protestan di Indonesia. Saya terkejut mengetahui bahwa tradisi ini, yang sebelumnya saya anggap eksklusif milik Gereja Katolik Roma, kini mulai diterima oleh beberapa denominasi Protestan. Lebih mengejutkan lagi, setelah menelusuri sejarahnya, saya menemukan bahwa Rabu Abu memiliki akar yang sama dengan Minggu-minggu Sengsara dan Minggu Adven semuanya berasal dari tradisi liturgis yang kuat dalam Gereja Katolik Roma.
Kalender Kristen (juga dikenal sebagai kalender liturgi atau kalender gerejawi) adalah jadwal tahunan yang memperingati hari-hari dan musim-musim tertentu yang berkaitan dengan sejarah keselamatan. Beberapa denominasi seperti Anglikan, Lutheran, Metodis, dan Presbiterian mengikuti sebagian besar kalender tradisional, sementara denominasi lain seperti Baptis dan gereja-gereja evangelikal non-denominasi lebih berfokus pada hari-hari besar tertentu, seperti Natal dan Paskah.
Pemaknaan Kalender Gerejawi dalam Gereja Protestan
Pertanyaannya, apakah salah bagi gereja Protestan untuk mengikuti tradisi kalender gerejawi yang juga digunakan oleh Gereja Katolik Roma? Untuk menjawabnya, ada dua aspek penting yang perlu dipertimbangkan:
1. Katolisitas dalam Gereja Protestan
Meskipun gereja Protestan berbeda dengan Gereja Katolik Roma, kita tidak dapat mengabaikan bahwa gereja Protestan adalah bagian dari Gereja Katolik (universal), yang memiliki kesamaan dalam sejarah dengan gereja-gereja lainnya, termasuk Gereja Katolik Roma. Pengakuan iman Nicea-Konstantinopel dan Athanasius, yang diikrarkan oleh gereja Protestan, juga diakui oleh Gereja Katolik Roma sebagai bagian dari upaya menjaga ortodoksi iman Kristen.
Berdasarkan prinsip ini, identitas Protestan bukanlah alasan untuk memisahkan diri secara total dari tradisi Kristen yang lebih luas. Kesamaan dalam penggunaan kalender gerejawi tidak secara otomatis menjadikan gereja Protestan identik dengan Gereja Katolik Roma. Teologi Protestan tetap memiliki cara tersendiri dalam menafsirkan dan memaknai kalender gerejawi.
2. Kalender Gerejawi dalam Terang Sola Scriptura
Sebagai umat Protestan, kita harus tetap berpegang pada doktrin Sola Scriptura, yaitu bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam iman dan praktik gereja, melampaui tradisi gerejawi, termasuk penggunaan kalender gerejawi. Oleh karena itu, kalender gerejawi tidak boleh dijadikan aturan normatif yang mengikat gereja secara dogmatis.
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus memberikan sebuah nasihat penting:
"Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus." (Kolose 2:16-17, TB)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa semua perayaan dalam kalender gerejawi, termasuk Minggu-minggu Sengsara, tidak boleh menjadi beban hukum bagi orang percaya. Paulus menegaskan bahwa hari-hari raya, termasuk aturan mengenai makanan dan perayaan keagamaan, hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih besar, yaitu Kristus sendiri. Artinya, semua praktik liturgis harus dipahami dalam terang karya penebusan Kristus yang telah sempurna.
Dengan demikian, keikutsertaan gereja Protestan dalam kalender gerejawi tidak boleh dipandang sebagai suatu kewajiban yang mengikat iman seseorang, melainkan sebagai sarana untuk mengarahkan perhatian kita kepada Kristus. Kalender gerejawi hanya memiliki nilai sejati jika digunakan untuk memperdalam pemahaman kita tentang Injil dan membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.
Kolose 2:16-17 menjadi dasar penting dalam memahami posisi ini. Kita tidak boleh membiarkan kalender gerejawi menjadi ukuran iman atau standar keselamatan. Sebaliknya, kita harus melihatnya sebagai alat yang membantu kita memahami karya Kristus dengan lebih dalam. Jika kalender gerejawi digunakan dengan benar, maka ia dapat menjadi sarana untuk memperkuat pengajaran Alkitab dan membawa jemaat semakin dekat kepada Kristus.
Misalnya, dalam Minggu-minggu Sengsara, pemilihan lagu dan khotbah berfokus pada penderitaan Yesus, sementara dalam Minggu Adven, gereja mengarahkan perhatian pada kelahiran Kristus. Ini bukan berarti tema lain tidak boleh dikhotbahkan dalam periode tersebut, tetapi kalender gerejawi membantu jemaat untuk lebih mendalami suatu aspek penting dalam iman Kristen.
Mengikuti kalender gerejawi, termasuk Minggu-minggu Sengsara, bukanlah suatu kewajiban mutlak bagi gereja Protestan, tetapi juga bukan sesuatu yang harus ditolak mentah-mentah. Kalender gerejawi dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman iman, selama penggunaannya tetap berada dalam terang Sola Scriptura dan tidak dijadikan syarat keselamatan.
Kolose 2:16-17 mengingatkan kita bahwa segala bentuk perayaan gerejawi harus mengarah kepada Kristus, bukan menjadi beban hukum bagi orang percaya. Dengan demikian, gereja Protestan dapat mengambil bagian dalam tradisi liturgis yang lebih luas tanpa kehilangan identitas teologisnya.
Sebagai gereja yang berakar pada tradisi Reformasi, kita perlu menyikapi kalender gerejawi dengan keseimbangan: menghormati nilai historisnya, tetapi tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar iman dan kehidupan Kristen. Semua perayaan hanyalah bayangan dari karya Kristus yang telah genap, dan yang terpenting adalah hidup dalam iman kepada-Nya.

0 Komentar