![]() |
| Penyangkalan Petrus |
Pada bulan Mei 2020, saya sedang mendalami apologetika Kristen secara lebih serius, termasuk membaca karya-karya Ravi Zacharias, salah satu apologet Kristen paling terkenal di dunia. Meskipun pendekatan apologetika Ravi berbeda dengan pendekatan presuposisional yang saya anut, saya menemukan banyak pemikirannya sangat berguna untuk menerapkan apologetika Van Til, terutama karena Ravi memiliki latar belakang Asia yang memahami cara berpikir dunia Timur — termasuk Indonesia. Ini tentu sangat membantu saya dalam konteks pelayanan di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).
Namun, berita duka datang di pertengahan Mei: Ravi Zacharias meninggal dunia. Saya sangat berduka karena merasa baru saja mengenal dunia apologetika dan mendapatkan banyak berkat dari pelayanannya. Akan tetapi, berita kematian itu ternyata bukan yang paling mengejutkan. Beberapa bulan kemudian, pada Agustus 2020, muncul berita skandal hukum yang menyeret nama Ravi. Ia, yang selama ini menjadi berkat bagi banyak orang, ternyata terlibat dalam skandal pelecehan seksual, dengan bukti kuat yang ditemukan melalui penyelidikan independen, yang dirilis resmi pada tahun 2021. Ketika kasus itu terungkap, saya tidak bisa lagi membaca karya-karyanya dengan cara yang sama. Ada perasaan marah, malu, sedih, dan kecewa yang menghantui saya, seorang pemuda yang sedang bersemangat mendalami dunia apologetika.
Saya bertanya-tanya:
"Jika Ravi, seorang apologet dunia bisa jatuh, bagaimana dengan saya yang masih muda, yang masih begitu rentan?"
"Sejauh apa dampak buruknya bagi gereja Tuhan?"
"Bagaimana dengan para korban yang terluka dalam diam?"
Setelah skandal Ravi, berita kejatuhan hamba Tuhan lain terus bermunculan: dari Carl Lenz yang meninggalkan imannya, hingga baru-baru ini, Steven Lawson, seorang teolog Reformed terkenal, yang juga terlibat kasus hukum. Semua ini menjadi mimpi buruk bagi saya yang sedang berjuang untuk menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia.
Saya terus bergumul:
"Apakah saya juga akan jatuh suatu hari?"
"Jika saya jatuh, apakah saya bisa pulih?"
"Bagaimana pelayanan saya nantinya?"
Pikiran-pikiran ini membuat saya sering mempertanyakan panggilan saya: Apakah saya siap melanjutkan pelayanan ini, atau lebih baik menyerah sebelum menyakiti banyak orang, termasuk menyakiti hati Tuhan?
Namun, melalui pergumulan ini saya disadarkan: panggilan pelayanan bukan karena kehebatan diri kita, tetapi karena anugerah Allah. Tulisan ini menjadi bukti bahwa saya memiliki tanggung jawab moral untuk melayani Tuhan di tengah-tengah keterbatasan saya. Saya sadar, saya bukan lebih baik dari mereka yang jatuh.
Satu-satunya "kelebihan" saya adalah bahwa dosa-dosa saya yang terburuk sejauh ini hanya diketahui Tuhan yang penuh kasih, sabar, dan murah hati kepada saya.
Sebagai generasi muda, wajar jika kita mengharapkan pemimpin gereja yang menjadi teladan. Namun ketika pemimpin kita jatuh, tidak sedikit anak muda yang kecewa, meninggalkan gereja, bahkan meninggalkan iman. Kekecewaan itu manusiawi. Itu tandanya kita masih punya nurani yang membenci dosa.
Jonathan Daugherty pernah menulis:
"When leadership is good, followers prosper.
When leadership is bad, followers suffer.
When leadership is deceitful about their sin and weaknesses, followers are devastated by such betrayal of trust."
Tetapi melalui artikel ini saya ingin mengajak teman-teman muda untuk tetap kuat dalam iman. Ingatlah: Tuhan Yesus adalah teladan sempurna kita, bukan pemimpin manusia. Iman kita bergantung pada Kristus, bukan pada para pemimpin gereja. Pemimpin bisa jatuh, tetapi Yesus Kristus tidak pernah jatuh. Dialah dasar iman dan ketekunan kita. Karena itu, mari kita belajar untuk tetap setia kepada Tuhan, walau kecewa dengan kegagalan manusia. Berikut ini 7 prinsip penting yang harus kita pegang saat pemimpin gereja jatuh:
1. Prioritaskan Perhatian pada Korban dan Jemaat
Saat skandal terjadi, fokus utama kita haruslah pada korban yang terluka. Dengarkan cerita mereka dengan empati, jangan mengabaikan atau meremehkan rasa sakit mereka. Gereja harus menjadi tempat penyembuhan, bukan tambahan luka. Ingatlah bahwa ketika pemimpin gereja jatuh, jemaat juga merupakan korban. Untuk itu alih-alih membela pemimpin kita yang jatuh, seharusnya kita lebih berfokus pada pemulihan dan penguatan iman jemaat. Biarlah urusan hukum pemimpin kita diserahkan kepada Tuhan lewat proses hukum yang berlaku. Sebagaimana kita mempercayai para hamba Tuhan kita di gereja dalam perkara rohani, mari juga kita mendoakan dan mempercayai para hamba Tuhan di pemerintahan dalam perkara hukum. Jika terdapat ketidakadilan dalam proses perkara, maka itu akan menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Namun, jika pemerintah telah bekerja dengan adil dan bertanggung jawab pada Tuhan, kita juga harus menerima hasil tersebut. Sebab pemerintah memegang pedang Allah di tengah-tengah dunia ini untuk menegakkan hukum .
"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7)
2. Tegakkan Akuntabilitas dan Transparansi
Kejatuhan pemimpin harus ditangani dengan jujur dan terbuka, bukan ditutupi demi menjaga reputasi. Gereja harus menunjukkan komitmen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Tanpa transparansi, kepercayaan akan hancur. Sesuatu yang salah yang terus berusaha ditutupi gereja sama halnya dengan kita berusaha menutupi luka kita tanpa mengobatinya, luka tersebut akan terus memburuk sampai suatu saat ketika luka tersebut terbuka hal itu akan mendatangkan rasa sakit yang begitu parah. Di tengah-tengah krisis kepercayaan generasi muda saat ini, gereja harus secara jujur dan terbuka untuk kesalahan apapun. Kejujuran adalah luka ringan bagi gereja, tetapi kebohongan adalah luka fatal yang setiap saat dapat membahayakan iman jemaat.
"Karena segala sesuatu yang tersembunyi akan dinyatakan, dan segala rahasia akan diketahui." (Markus 4:22)
3. Tanggapi dengan Kerendahan Hati dan Kasih Karunia
Menghakimi dengan sombong justru menjerat kita pada kesombongan rohani. Ingat, kita pun rentan jatuh. Merespons dengan kasih karunia menunjukkan bahwa kita memahami kedalaman kasih Tuhan yang mengampuni kita. Menertawakan para hamba Tuhan yang jatuh merupakan tanda bahwa kita lebih buruk dari mereka. Satu-satunya alasan kita tidak jatuh dengan cara yang sama seperti para pemimpin kita telah jatuh ialah karena Tuhan masih bersabar dan bermurah hati pada kita. Milikilah mata seperti Kristus yang melihat orang berdosa yang gagal setia dengan belas kasihan, tangan seperti Kristus yang rela menyembuhkan mereka yang dianggap berdosa, dan hati seperti Kristus yang menerima orang berdosa yang datang kepadanya dengan pertobatan.
"Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12)
4. Cari Kebenaran Sebelum Bereaksi
Sebelum menarik kesimpulan atau menyebarkan berita, cari informasi yang akurat. Jangan mudah terbawa emosi atau asumsi. Reaksi tergesa-gesa hanya memperkeruh keadaan dan bisa melukai lebih banyak orang. Kemajuan teknologi informasi seperti media sosial, ternyata tidak menjamin banyak orang mendapatkan informasi yang akurat. Kenyatannya, lebih banyak orang yang dengan mudah dipengaruhi oleh berita hoax dari pada informasi yang akurat. Ketika seorang hamba Tuhan terkenal skandal atau diduga memiliki masalah hukum, kita tidak boleh menjadi hakim yang langsung memvonis bersalah hamba Tuhan tanpa memiliki bukti yang cukup. Mari mendoakan para penegak hukum kita untuk bekerja mencari kebenaran dan keadilan.
"Siapa memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." (Amsal 18:13)
Tentu! Ini saya bantu elaborasikan ketiga poin itu dengan bahasa sederhana, supaya lebih mudah dipahami dan terasa dekat:
5. Pegang Iman pada Tuhan, Bukan pada Manusia
Kadang kita terlalu mengidolakan pemimpin gereja: pendeta, penatua, atau guru rohani kita. Kita merasa iman kita kuat karena melihat mereka hebat. Tapi, faktanya, manusia bisa jatuh dan gagal, bahkan orang yang kelihatannya rohani sekali. Tapi Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Dia tetap setia, tetap benar, dan tetap mengasihi kita. Itu sebabnya, iman kita harus berpusat kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang yang memimpin kita. Kalau kita hanya bergantung pada manusia, kita akan kecewa. Tapi kalau kita berpegang pada Tuhan, kita akan tetap kuat, walau orang lain jatuh.
"Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8)
6. Pahami Pemulihan dengan Bijaksana
Kalau seorang pemimpin jatuh dalam dosa, kita memang harus mengasihi dan mengampuni. Tapi itu bukan berarti mereka langsung bisa kembali melayani seperti biasa. Pemulihan (restorasi) butuh waktu. Harus ada pertobatan yang sungguh-sungguh, bimbingan rohani, dan pendampingan. Bukan cuma sekadar minta maaf supaya reputasi bersih lagi, tapi benar-benar berubah dan dipulihkan oleh Tuhan. Kita juga harus membimbing mereka dengan sikap rendah hati dan penuh kasih, bukan dengan menghakimi.
"Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut." (Galatia 6:1)
7. Belajar dan Bertumbuh dari Pengalaman Ini
Kejatuhan pemimpin rohani bisa membuat kita kecewa, bahkan patah semangat. Tapi jangan berhenti di sana. Justru dari situ kita belajar pentingnya menjaga hati, hidup dalam kekudusan, dan membangun karakter yang kuat di hadapan Tuhan. Pengalaman pahit itu harus mendorong kita untuk lebih bergantung kepada kasih karunia Tuhan, karena tanpa Dia kita juga bisa jatuh. Jangan biarkan kegagalan orang lain menghancurkan iman kita. Biarkan itu menjadi pelajaran yang membuat kita semakin serius dalam hidup bersama Tuhan setiap hari.
"Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7b)
Charles Spurgeon dikenal sebagai "The Prince of Preachers" merupakan salah satu pengkhotbah terbesar dalam sejarah gereja. Di masa mudanya, Spurgeon sudah memimpin jemaat besar di London, Metropolitan Tabernacle, dengan ribuan jemaat yang hadir setiap minggu.
![]() |
| Spurgeon berkhotbah |
Tetapi tidak banyak orang tahu bahwa di usia yang masih muda, Spurgeon pernah mengalami pengalaman yang sangat menghancurkan. Pada tahun 1856, saat ia mengadakan kebaktian di sebuah gedung besar bernama Surrey Gardens Music Hall, ribuan orang hadir untuk mendengarkan kotbahnya. Di tengah-tengah kebaktian, ada orang iseng yang berteriak "Api! Api!" padahal sebenarnya tidak ada api. Teriakan itu membuat kepanikan hebat. Orang-orang berdesakan, berlarian ke pintu keluar, dan dalam kekacauan itu, 7 orang meninggal dunia, dan banyak lainnya terluka parah.
Spurgeon yang masih sangat muda saat itu (sekitar 22 tahun) merasa sangat terpukul. Ia merasa bersalah, depresi berat, bahkan sempat berpikir untuk berhenti melayani. Ia merasa bahwa semua usahanya untuk memberitakan Injil seolah hancur dalam satu malam. Namun, di tengah kehancurannya, Spurgeon perlahan-lahan memulihkan dirinya dengan berpegang pada Tuhan, bukan pada keadaan atau pendapat orang. Ia kembali merenungkan kebenaran bahwa Kristus tetap setia, meski situasi manusia bisa sangat menyakitkan. Firman Tuhan menjadi penghiburan terbesar baginya, terutama ayat seperti Ibrani 13:8:
"Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."
Spurgeon tidak menyerah. Ia bertahan. Ia bertumbuh dalam kekuatan baru dari Tuhan. Dalam tahun-tahun berikutnya, Spurgeon bukan hanya memulihkan pelayanannya, tapi justru menjadi lebih kuat, lebih dalam secara rohani, dan lebih berbelas kasih kepada orang-orang yang terluka. Spurgeon mengajarkan kepada kita bahwa dalam pengalaman kejatuhan, kekecewaan, dan luka besar, iman kita harus tetap ditaruh kepada Tuhan — bukan pada manusia, bukan pada situasi, dan bukan pada keberhasilan kita sendiri. Spurgeon berkata;
"Blessed is the man who trusteth in the Lord, and whose hope the Lord is. It is better to trust in the Lord than to put confidence in man; it is better to trust in the Lord than to put confidence in princes."
"Do not look to your fellow men for help. They are broken reeds if you lean upon them; but you shall find Christ to be a sure foundation, steadfast and firm."
Sebagai generasi muda gereja, kita dipanggil untuk terus setia melayani di tengah kerapuhan manusia. Kita belajar untuk tidak menaruh kepercayaan mutlak kepada manusia, melainkan hanya kepada Kristus yang adalah Kepala Gereja. Semoga kita tetap menjadi terang di tengah dunia, setia sampai akhir, dan terus bertumbuh dalam pengudusan. Yesus Kristus, bukan manusia, adalah teladan sejati kita. Dialah yang layak kita ikuti, dalam suka maupun duka.




0 Komentar